Blog kepenulisan

Kamis, 24 Mei 2018

TAMAN MISTERI-CERPEN EVENT



#Event_1_karya_1_hari_dalam_30_hari
#JisaAFTa
Karya ke-31
 
TAMAN MISTERI
Karya: Riami

Malam ini benar-benar menjadi hal yang luar biasa. Bagi gadis cantik yang berprofesi sebagai detektif. Ah tidak mudah menjadi detektif. Apa lagi wanita. Selain butuh nyali, butuh keahlian khusus, juga ahli bela diri. Paling sulit adalah ahli mencium masalah. Atau hal-hal yang tidak wajar dalam sebuah kasus. Kali ini  Azeni Gangan mendapat tugas untuk mengusut kematian wanita misterius. Sebab sudah tiga kasus serupa terjadi di daerah ini. Di sebuah kota kecil bernama Stenlyst  telah terjadi penculikan gadis dan belum ditemukan. Ketiga gadis itu setelah ditelusuri pernah pergi kencan bersama seorang laki-laki tampan. Tetapi setelah berkencan dinyatakan hilang.

Malam ini tugas diterima. Meski untuk itu semua dia ditemani sepuluh detektif pria dan dilengkapi dengan alat perekam yang canggih yang bisa langsung terhubung dengan kantor kepolisian kota. “Azeni, kenapa kamu berani malam-malam masih berada di Halte ini? Aku temani ya?”, tanya seorang lelaki tampan kekar dan simpatis penampilannya. Seperti aroma anyir ditangannya. Azeni hanya mengangguk. “Sedang tidak ada yang antar Bang, abang dari kerja.? Menurut perkiraanku jam delapan masih ramai ternyata sudah sepi. Jadi kuputuskan untuk telepon kakakku.” Jawabku mulai ingin berbincang dengan pemuda itu. “Kenalkan namaku Xenko kamu siapa?” “Azeni Gangan.” “Nama yang bagus. Apa tidak ada yang menjemput?” “Ada masih mau saya telepon,” jawabku.  “Kuantar pulang mau ya Ning?” “Apa abang tidak kejauhan nanti pulangnya?” “Tidak kebetulan abang pulangnya searah dengan Ning Azeni.” “Tidak biasa diantar orang yang belum saya kenal. Besuk saja kalau pulangnya agak siang ya. Ini aku sedang menunggu taxi.” “Baiklah. Boleh minta nomor telepon?” “Boleh 085555978643,” Oke kucatat.

Malam semakin pekat. Pukul sembilan. Azeni dijemput oleh teman seprofesinya. Di perjalanan tidak banyak bicara. Karena begitulah sesama detektif tidak boleh banyak bicara yang tidak penting di jalan. Sampai di rumah ia mandi air hangat, ganti baju dan hendak tidur. Sudah hampir terpejam Hpnya berdering. “Hai, masih ingat denganku?” “Masih Bang Xenko?” “Ada apa malam-malam telepon?” “Bisakah kita mengenal lebih dekat?” “Maksudnya?” “Ya misalnya besuk kita siang bersama. Atau kapan hari bisa refresing bersama.” “Dimana kalau refresing.” Di Vilaku bagus pemandangannya.” “Oh iya, boleh mengajak teman Bang?” “Tidak boleh lah jadi gak seru. Dan banyak teman bikin dompet abang kehilangan banyak isi ATM.” “Ah Abang pelit ah.” “Ya udah boleh.” Siang itu aku dan temanku mengahadiri undangan Xenko ke Vilanya. Berada di puncak sebuah bukit Vila ini sangat keren. Sungguh menakjubkan.

“Sebenarnya kamu kerja di mana? Vilamu keren banget?” “Kerja di perusahaan ayahku. Sebuah perusahaan tekstil.” “Ow berapa hari sekali kamu kemari?” “Dulu setiap minggu. Tapi setelah putus dengan pacar saya jadi malas. Baru kali ini saya kemari lagi.” “Yang merawat taman itu siapa bunganya indah sekali.” “Ada Juru taman setiap hari datang, kecuali hari Minggu dan tanggal merah.”

Setelah perkenalan dan tiga kali bersama temanku aku mulai beraksi ke sini sendiri hanya bersama Xenco. Hari sudah hampir magrib sampai di Vila. Aku solat dulu. Ketika aku ambil air wudhu di kamar mandi belakang seperti kudengar suara rintihan. Ah, apakah hanya perasaanku saja? Aku tidak mengerti. Lalu aku sholat di sebuah kamar kosong. Di sini di sebuah Vila yang besar milik Xenco tidak ada tempat untuk sholat. Karena itu aku memilih ruang kosong dekat gudang. Lagi-lagi suara rintihan menggoda sholatku. Seperti suara wanita. Kukirim pesan pada temanku. Suara mencurigakan dengan bahasa sandi. Selesai sholat aku melihat-lihat. Ada taman di dekat kamar kosong. Banyak tulisan relief tentang cinta. Gambar-gambar wanita cantik. Seperti ada nyawanya. Tiba-tiba sekelebat bayangan telah menarikku ke dalam gudang kosong. Tapi sangat menyeramkan. “Kamu jangan ke taman itu. Sungguh aku di sini dalam bahaya. Sudah tiga orang yang dibunuh oleh pemuda itu. Aku tak tahu alasannya. Tapi dia mengajak berdansa di taman itu lalu membunuhnya.” “Ow.” Aku pura-pura takut. Atau agak takut ya.

“Lalu kamu kenapa di sini?” “Saya juga baru kemarin diajak ke sini. Lalu aku di sekap di gudang ini. Tadi ketika juru taman  membuka gudang aku keluar. Dan malam kemarin aku melihat sendiri di bawah sorot lampu taman seorang gadis di tusuk dengan pisau. Setelah itu dikubur di taman itu. Lalu di tutup dengan rumput taman dan bunga-bunga dalam pot. Salah kita terlalu mudah terjebak pemuda tampan. Bagaimana ini.” “Tenang! Jangan berinsik!” “Tenang bagaimana!” Seru gadis itu hampir tak terdengar. “Kau bisa bela diri. Bisa sedikit. Dulu aku pernah belajar silat tapi tidak sampai selesai.” “Baik itu cukup menjadi bekal kita untuk lari.”

          ***  ***  ***
Hari mulai gelap. Kami berdua berencana ingin keluar dari Vila itu. Tapi sampai di depan taman yang penuh relif itu tiba-tiba Xenco menyapaku. Hee mau kemana kau cantik. Kita belum berdansa. “Jangan ikut berdansa kata gadis itu. Nanti kau pingsan.” Aku segera sadar. Segera kupakai alat penutup wajah dan hidung agar tak bisa menghirup udara yang berbahaya. Alat yang kupakai sayangnya hanya membawa satu. Dengan alat ini semua zat bisa tambar. Kasihan gadis ini pasti nanti pingsan.

Betul malam ini kusaksikan Xenco mengajak gadis itu berdansa dan sepertinya kulihat dia tak sadarkan diri. Tiba-tiba kulihat sebilah belati di keluarkan dari pinggangnya. “Plak!” kusepak tangannya dan jatuhlah belati itu. Dengan tendangan itu Xenco tidak sadar bahwa telah memancing seluruh temanku untuk hadir di lokasi kejadian yang sedang ku alami.

Tetapi kelompok detektifku belum masuk dalam ruang taman rahasia penuh misteri itu. Aku terlibat perkelaian yang sangat seru. Kami berlarian sepanjang lorong di dalam Villa itu. Ternyata ada jalan menuju semak belukar yang berada di belakang Vila itu. Vila ini tampak sendiri. Tidak ada tetangga. Sehingga menjerit seberapa pun kamu tak akan ada yang mengerti. Setelah itu kami duel. Dan prak tendanganku tepat mengenai rahangnya. Dia terjatuh. “Aku mulai sadar. Kau bukan gadis seperti biasa. Pasti kau sedang membuntutiku untuk mau membawaku ke penjara. Aku tidak mau. Aku akan membunuhmu!” “Jangan lebih baik kamu menyerah daripada kutembak. Lalu pemuda itu pun mengeluarkan sebuah pistol. Benar-benar orang kaya. Sebab hanya orang kaya dan mendapat izin yang diberi hak untuk memiliki senjata. Baku tembak pun terjadi. Ow serasa puluru ada di pelipisku. Hampir saja. Kubiarkan dia menembak duluan dengan pistolnya yang berbunyi itu. Duz ... terpaksa kulumpuhkan dengan senjata rahasiaku. Kutembak satu kakinya. Kulihat dia masih menembak tapi pelurunya sudah habis. Seperti hendak mengambil peluru lagi. Duz... kutembak lagi dibagian tangannya. Door! Aku masih mendengar suara itu dan kulihat lenganku berdarah.

Wah kenapa temanku belum juga datang. Aku berlari. Bersembunyi di balik patung dalam dalam taman itu. Aw tiba-tiba kakiku terperosok. Ternyata ada jalan lagi menuju seperti rumah kecil di pinggir danau. Kami pun tetap melanjutkan pergulatan. Di sini kulihat dia menangis. “Kamu tahu? Kenapa aku menangis. Di sinilah ayah dan ibuku dibunuh. Oleh seorang wanita. Karena itu aku selalu mengajak wanita-wanita itu kemari untuk kutunjukkan pada ayah ibuku. Bahwa aku telah berhasil menemukan pembunuhnya. Dan aku sendiri yang akan menghabisinya.” Kulihat dia membuka pintu rumah kecil itu. Meski agak takut kuikuti dia. Ada dua tengkorak dalam rumah kosong itu. “Inilah ayah ibuku yang dibunuh itu. Apakah itu temanmu?” Dia bertanya padaku. “Bukan aku tidak memiliki teman seorang pembunuh. Lalu itu tengkorak siapa?” Tengkorak ini adalah ayah dan ibuku.” “Ya kau mengambilnya di mana. Di ruang gudang sebelah. Berikan padaku untuk diteliti.” “Tidak aku tak kan memberikan padamu. Dan pada detik berikutnya tiba-tiba sebuah belati kecil menancap di kakiku. Dia lihai sekali meski kelihatan lemah. Dan aku tak berdaya. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa. Yang kutahu aku sudah dibawa temanku detetif lainnya ke rumah sakit. “Kau sudah aman. Kau benar-benar detektif wanita yang tangguh.” “Tapi aku belum bisa meringkus penjahatnya. Penjahatnya sudah kami ringkus tinggal menunggu proses pengadilan. Ow Terasa bisa bernafas. 
Share:

BAJU LEBARAN - CERPEN EVENT



#Event_1_karya_1_hari_dalam_30_hari
#JisaAFTa
Karya ke-30

BAJU LEBARAN
Karya: Riami

          Senja di Kaki langit semakin memerah ketika Deno bermain dengan teman sebayanya. Mereka semua membicarakan baju lebaran yang telah dibelikan orang tuanya. Ada yang bercerita sudah dibelikan satu bulan yang lalu, ada yang baru minggu lalu, pokoknya menyenangkan bagi teman-teman Deno yaitu Ryan, Putra dan Yeyen. Mereka semua menceritakannya dengan penuh gembira tanpa memperhatikan perasaan Deno. “Yan bajumu berapa stel?” “Dua, satu baju takwa dan yang satunya baju model kempol, yang ini bagus banget kata ibuku mahal.” “Wah aku tiga stel ada yang baju hem juga. Celananya modenya beda-beda.”
          Dengan sedih Deno mendengar cerita temannya. Ia hanya diam saja.  Ingin sekali membuka celengan ayamnya yang terbuat dari plastik untuk di buat beli baju. Deno berlari ke rumahnya. Bocah kelas tiga SD itu langsung menuju kamarnya. Ia ambil celengan plastiknya dilihatnya sudah penuh. Ia jarang sekali jajan meski hanya diberi uang saku tiga ribu rupiah. Karena jarak sekolah dekat ia biasanya bawa bekal nasi dan air putih dari rumah kalau ada kegiatan sekolah misalnya pramuka. Lalu ia beli gorengan seribu untuk makan. Diteguknya air putih yang dibawanya di botol aqua bekas. Ah tapi dia tidak pernah murung di sekolah. Wajahnya selalu optimis. Pandai sekali ia dalam semua bidang. Kenaikan kelas tahun kemarin ia juara umum di kelas dua. Di kelas tiga ini dia juga juara lagi. Karena itu orang tuanya tak pernah sibuk berfikir tentang biaya sekolah Deno meski sekolah di Sekolah Dasar Favorit. Hanya Deno kurang beruntung nasipnya. Ayahnya yang hanya bekerja sebagi penarik becak itu sering sakit.
          Malam ini ia buka celengan ayam berbahan plastik itu menggunakan pisau. Dilihatnya betapa berjubel uang dua ribuan dalam celengan ayamnya. Ada sebagian yang lima ribuan dan sepuluh ribuan. Ada beberapa lembar yang dua puluh ribuan. Itu semua kalau sedang ada saudara ke rumah lalu diberi uang saku dimasukkannya juga dalam celengan ayamnya.  Ah hatinya senang sekali. Dihitungnya jumlahnya ada delapan ratus lima puluh dua ribu rupiah. Ah ini pasti cukup untuk membeli baju lebaran untukku dan  buat adikku si cantik Ratri.
          Dia sendirikan lembaran-lembaran dua ribuan, lima ribuan, puluhan dan dua puluhan ribu itu. Tetapi masih banyak yang dua ribuan. Bahkan ada yang agak kumal. Ditaruh diplastik uangnya. Lalu dia  bilang kepada ibunya. “Bu ini uang celengan saya ada delapan ratus lima puluh dua ribu rupiah bu. Aku ingin sekali beli baju lebaran. Semua teman-teman sudah beli baju.” “Iya nak besuk kita ke toko dekat dekat sini saja sebab kalau ke kota nanti ongkosnya dua kali lipat. Kau paham?” “Paham Bu.” Seperti biasa Deno tak pernah protes. Dia selalu mengiyakan apa yang dikatakan ibunya. Deno juga sangat menyayangi Ratri adiknya. “Hore kita beli baju ya kak?” “Iya sabar ya masih menunggu uangnya ngumpul.” Meski sudah ada Deno tidak bilang. Sebab Ratri selalu minta segalanya dengan cepat.
                   ***  ***  ***
          Sore hari ini semua tampak ceria. Mereka bertiga akan pergi ke toko pakaian di pasar malam desa dekat mereka tinggal. Ratri si bungsu imut suka sekali. Dia meloncat kegirangan. Saat mereka mau berangkat. Mobil angkutan desa berhenti di depan mereka. Ayahnya mengikuti sampai di teras. Tiba-tiba saat akan naik ke angdes ayahnya pingsan. Jantungnya kambuh. Semua bingung. Ini hari libur. Dokter dekat rumah tutup. Akhirnya berbekal kartu Indonesia sehat iya pun pergi ke IGD Puskesmas. Dokter memeriksanya. Dua hari opname di puskesmas. Belum ada perbaikan yang signifikan.
          “Bu, Bapak harus dirujuk ke rumah sakit, sebab ada alat dan obat yang gtidak disediakan oleh puskesmas untuk perawatan bapak. Dan Bapak harus di rawat di poli jantung yang tepat. Agar sakitnya tidak semakin parah.” “Iya Dok.” Mendengar itu semua terpikir uang baju lebaran milik Deno sudah kepakai seratus ribu rupiah. Meski semua biaya perawatan sudah ditanggung BBJS tapi kendaraan dan bebera hal untuk kepentingan menunggu ayahnya kemarin sudah aku gunakan. Dan beberapa dari selama menunggu di puskesmas aku tidak bisa bekerja. Pikir ibu seorang diri.
          “Deno ayah harus dirawat di rumah sakit, bagaimana uangmu?” “Pakailah bu. Itu uang ibu juga. Sekarang tinggal berapa? Tujuh ratus lima puluh dua nak.” Bawalah yang enam ratus untuk bekal menunggu ayah selama rawat inap di rumah sakit. Biarlah yang seratus lima puluh ribu untuk adik beli baju dan makan kami berdua selama ibu tidak ada di rumah.” “Kau memang anak yang baik. Ibu terharu. Masih sekecil ini kau sudah mengerti tentang hidup. Ibu berangkat ke rumah sakit ya nak. Titip adikmu di rumah.” “Iya bu jangan khawatir, kami akan rukun. Silakan ibu tunggui ayah hingga sembuh.”
          Pagi yang cerah. Bulan puasa yang ke enam tanpa ayah dan ibu di rumah.  Mereka kakak beradik. Deno dan Ratri. Ayok kita nanti beli baju.” “Kak deno juga?” “Uangnya kak Deno biar dipakai untuk berobat ayah. Dan kak Deno masih punya baju tahun lalu. Masih bagus. Yuk nanti kita beli baju untuk Ratri.” “Hem kalau kakak punya celengan plastik, Ratri juga punya kak. Kalau kakak punya baju tahun lalu Ratri juga punya. Jadi kali ini kita mending sama-sama gak beli baju lebaran. Karena ada yang lebih penting yaitu kesehatan ayah. Heem lihat celengan Ratri. Celengan Ratri dari tanah liat. Dibantingnya ke tanah. Banyak sekali uang seribu rupiahan bahkan ada yang lima ratus rupiah. Karena uang aku Ratri lebih sedikit dari aku. Alasannya dia masih SD kelas satu pulangnya agak pagi dan lokasinya dekat. Tapi ternyata dia juga masih menyisihkan uangnya. Kami menghitung berdua uang celengan Ratri. Ada tiga ratus ribu rupiah. Ini untuk perawatan ayah juga ya kak. Biar ibu tidak pinkjam ke mana-mana. Ah saya kira adikku masih kecil. Ternyata dia juga paham kondisi. Aku heran sekaligus kagum. “Kata ustatku di Mushalla kalau lebaran itu yang penting puasanya.” “Oh iya, apa lagi kalau uang itu untuk orang tua kita. Pasti hebat. Pasti kita nanti disayang Tuhan. Kami pun tertawa dan berangkulan.
          “Assalaamualaikum!” “waalaikum salam.” “Eh bang Darjo. Masuk Bang.” “Ada apa, Bang?” “Aku tadi ke rumah sakit jenguk ayahmu. Kulihat ibumu menangis di depan kamar jenazah.” “lalu bang?” “Katanya ayahmu meninggal dunia. Dan aku kemari untuk membantu persiapan di rumah untuk menyambut jenazah ayahmu nanti.” “Innalillahi wainna ilaihi roojiuun. Ratri. Semoga kamu kuat nduk.” Ratri menagis sejadi-jadinya. Bahkan sampai bang Darjo memberinya minuman dari tetangga. Katanya biar Ratri tenang. “Aku ingin ayah sembuh. Kak. Aku tidak beli baju tidak apa-apa kak. Kenapa ayah meninggal kak. Kenapa kaaaakkk!” Suara Ratri hampir seperti tercekik. “Ratri umur kita tidak ikut memiliki. Tuhan sayang sama ayah kita. Karena itu dia memanggilnya. Lihatlah Tuhan memanggil saat bulan puasa. Ini bulan penuh berkah. Penuh ampunan. Ayah pasti sudah di sediakan tempat di surga. Dan dibebaskan dari rasa sakitnya.” Deno menghibur Ratri. Meski sudah agak diam tapi masih terisak di pangkuan Deno. Orang-orang semakin banyak yang berdatangan untuk takziah. Apa lagi Ayahnya Deno aktif di kampung sebelum dia sakit.
          Mobil ambulan datang. Suaranya meraung memecah kesunyian. Berhenti tepat di depan rumah Deno. Jenazah diturunkan dari ambulan. Tempat untuk memandikan sudah disiapkan. Tampak masih segar dan tampan mayat ayahnya Deno. Deno juga ikut memandikan. Ratri kecil hanya melihat sambil memegangi baju ibunya. Masih terisak dia. Dan sudah disiapkan di masjid dekat rumahnya untuk menyolatinya. Didengarkan Sie kesra Desa memberikan sambutan. “Assalaamualaikum Warohmatullohi wabarookaatuh. Yang terhormat bapak ibu yang hadir dalam acara pemberangkatan pemakaman bapak Hainudin. Perlu kami sampaikan secara pribadi bahwa selama hidup bapak Hainudin adalah orang yang baik dan supel dalam bergaul buktinya ia selalu aktif kegiatan kampung. Apa menurut bapak ibu juga begitu?” “Yaa baik.” Terdengar jawaban pelayat serentak. “Apakah bapak Hainudin punya tanggungan?” “Tidak” Malah ada salah satu warga yang maju. “Saya pengurus koperasi desa, Pak Hainudin masih punya tabungan sebesar limaratus ribu rupiah. Biasanya diambil menjelang lebaran. Nanti pengurus akan ke rumah duka sambil mengantar santunan. Terima kasih.” Akhirnya Jenazah ayahnya Deno pun diberangkatkan ke makam umum Desanya. “Deno!” Ibunya merangkul Deno. “Kita akan kehilangan Ayah untuk selamanya bu.”
Share:

Sabtu, 05 Mei 2018

UNDANGAN-CERPEN EVENT



#Event_1_karya_1_hari_dalam_30_hari
#JisaAFTa
Karya ke-27

UNDANGAN
Karya: Riami

          Senja merah di ufuk barat. Menusuk rasaku. Seperti undangan merah yang tergeletak di meja makanku. Tertulis nama Jevino dan Bimbi. Mereka adalah kedua sahabatku yang hendak menikah. Jevino kakak kelasku satu tingkat lebih tinggi di Perguruan Tingggi yang sama denganku. Sedangkan Bimbi adalah sahabatku mengikuti ekstra silat mulai dari SMA di perguruan pencat silat Setia Hati di kotaku. Kami sudah seperti saudara. Semula Jevino menaksirku. Aku juga. Tapi kami sama-sama punya ambisi yang berbeda. Jev, begitu aku memanggilnya mengajakku menikah setelah dia lulus kuliah. Sedangkan aku tidak mau aku masih ingin melanjutkan sebab aku terpaut dua tahun dengan Jev. Aku ingin ketika menikah sudah selesai semua pendidikanku. Menurut Jevino wanita harus menurut laki-laki dan melanjutkan pendidikan setelah menikah tidak apa-apa. Aku tidak siap. Setelah punya anak masih harus  memikirkan tugas-tugas kuliah yang belum beres.

“Kamu terlalu memikirkan masa depan Selvi,” kata Jevino suatu hari. “Maksudmu?” tanyaku. “Bagaimana kalau aku jadi menikah dengan orang lain saja kalau menunggumu terlalu lama aku tidak bisa.” Perkataan Jevino sungguh menusuk kalbu dan membuat aku naik pitam. Maka kukatakan saja, “Ya sudah menikah saja.” Aku akan kuliah dulu. Aku tidak menduga itu sungguh-sungguh dilakukan oleh Jevino. Aku berfikir dia mencintaiku dan takkan mening-galkanku. Ah suatu hari siang terik kulihat Jevino keluar dari mobil. Memang Jevino adalah mahasiswa tajir karena selain orang tuanya kaya Jevino adalah mahasiswa yang rajin bekerja. Sebagai calon arsitek dia sudah banyak job bersama dosennya. Ditambah penguasaan preneur yang yang handal aku sangat kagum sebenarnya.

Kulihat dia membuka pintu. Lalu ke pintu sebelah kiri. Dan alangkah terkejutnya. Kulihat ada wanita turun dari mobilnya. “Oh siapa dia pikirku.” Sambil melihat posturnya dari belakang aku tidak tahu siapa dia.

Suatu sore ketika pulang sekolah Jevino mengajakku makan di kafe ternama kesukaan kami. Seperti biasa Jev selalu menraktirku kalau selesai memperoleh job kerja. “Apakah benar kau masih belum mau menikah denganku bulan depan setelah aku wisuda?” “Belum Jev, aku masih mau melanjutkan kuliah dulu tunggu aku satu tahun lagi.” “Aku sudah tidak bisa menunggu selama itu. Satu tahun itu tidak sebentar. Sedangkan kita sudah kenal dua tahun yang lalu apa kamu tidak ingin kita segera syah dan kau menjadi bagian dalam segala suka dukaku menjadi seorang insinyur. Aku juga sudah bekerja apa kamu belum yakin aku bisa menghidupi rumah tangga kita?” “Masalahnya bukan itu, aku masih belum mau tergannggu hal lain saat kuliahku belum selesai.” “Terganggu? Aku malah akan mendukungmu. Kenapa kamu tidak yakin Selvi?” “Bukan begitu aku ingin fokus dulu.” “Ya sudah fokuslah berarti aku tidak bisa menunggumu.” “Berarti kita putus, maksudmu?” “Iya, mohon maaf kita beda ambisi dan pandangan hidup.” Meski aku tidak menyangka ini akan terjadi, tapi entahlah perasaan egoku tak bisa mengalah dari perasaan cintaku. Akhirnya kami putus.
*** *** ***
Satu bulan kemudian ternyata yang kulihat di mobilnya Jevino adalah sahabatku Bimbi. Aku sedih putus dengan Jevino tapi untuk Bimbi aku tetap angkat topi. Aku sangat menyayanginya. Meski sedih aku tak kan merasa benci padanya sebab dia pun tak merebut dari aku. Hanya di sini memang sedang perang ambisi dan aku kalah. Kalau sekarang aku tidak naik di mobilnya mulai pacaran bisa dihitung aku naik di mobilnya Jevino. Aku memang kurang sabar. Lebih suka naik sepeda motor. Cepat bisa nyalip-nyalip asyiik. Ah ternyata sekarang aku harus mulai nyicil bayar ambisiku. Sore ini aku aku ke toko mau cari kado buat mantan dan sahabatku. Rasanya bingung kado apa yang cocok. Aku baru sadar bahwa Jevino seakan sudah memiliki semuanya. Tinggal untuk Bimbi. Wow ada buku judulnya “Cara membahagiakan Suami.” Ah ini saja ditambah boneka kesukaan bimbi.

Malam ini aku ngetik kartu ucapan untuk mereka berdua. Ada rasa perih di hati. Tapi harus kulawan. Aku harus kuat dan berani menerima kenyataan dari hasil ambisiku sendiri.

Buat Jevino dan Bimbi
Selamat menempuh hidup baru
Semoga bahagia dan mawaddah warahmah selalu
Sahabatmu- Selvi
Selvi
 







          Kartu berwarna hijau itu kumasukkan ke dalam kado. “Bimbi aku harap kau bahagia,” Gumamku dalam hati. Rasanya aku tak sabar ingin melihat bimbi bersanding dengan Jevino. Mengapa hatiku bergetar begini. Jujur aku masih cinta sama Jevino. Tapi kami berdua berbeda prinsip yang membuat aku dan dia berpisah.
                   *** *** ***
          Pagi hari di kampus. “Dooor!” terkejut sekali aku. “Ah Kenzi, ngaget-ngagetin aja.” “Kamu nglamun kan, kamu masih mikir Jevino kan?” “Iya sich, tapi mau gimana lagi aku. Jevino tidak sabar menungguku. Dia sudah mau menikah dengan Bimbi.” “Ya kamu harus kuat. Kamu nanti hadir kan acara di rumah Bimbi?” “Pasti Ken sebab Bimbi adalah sahabatku. Dan undangan itu ditujukan untukku. Aku harus hadir. Kau juga kan?” “Iya hee kenapa kamu nangis?” Biar besuk saat pernikahan Jevino tidak nangis lagi.” “Hemm cinta-cinta kalu ngumpul ramai bertengkar, giliran ditinggal kawin nangis.” “Ah kamu belum merasakan jangan ngledek.” Kenzi adalah sahabat di kampus. Tapi dia tak pernah kulihat membawa pacarnya ke kampus juga. “Selvi apa kamu tidak ingin punya pacar lagi. Yang sanggup menunggumu sampai lulus?” “Aku masih ingin sendiri. Tak apalah kalau nanti sore menemaniku menghadiri undangan pernikahan Bimbi dan Jevino. Siapa tahu aku pingsan biar ada yang bawa pulang.” “Ah aku tak percaya kau pingsan. Kamu itu wonder women.” “Masa sich?” “Iya. Seumur hidup baru kali ini aku melihatmu menangis.” Ah kamu jangan ramai aja. Yuk masuk kelas. 
          *** *** ***
          Hari yang ditentukan untuk hadir di pernikahan Bimbi telah tiba. Aku sudah siap di jemput Kenzi. Kami berdua berangkat ke rumah Bimbi naik Grab. Sebab rumah Bimbi jauh di luar kota. “Apa yang kamu ucapkan saat nanti sudah sampai di rumah Bimbi?” “Ya selamat pengantin baru Ken mau apa lagi?” “Ingat jangan pingsan ya. Sebab aku tak akan kuat mengangkat wonder women.” Ah malah pingsan aja, biar kamu repot dan jadi pahlawan. Jangan ganggu rasaku.” “Kamu pasti masih sedih kan putus sama Jevino.” “Ya iyalah Ken, tapi sekarang aku baru sadar bahwa mencintai itu harus berkorban. Biarlah kalau memang ini membahagiakan Jevino. Memang salahku. Aku tak bisa ngalah begitu saja. Aku ingin kuliahku selesai dulu. Tapi Jevino tak mau. Ya mau gimana lagi?”
          Tak terasa sudah sampai destinasi. “Lho kok tidak ada terop, atau janur kuning Ken?” Biasanya pengantin kan itu cirinya. “Ah mungkin tidak pakai.” “Masa Jevino itu orang tajir. Masa menikah begini doang.” “Silakan masuk mbak,” suara penerima tamu menyuruhku. Aku gugup. Kulihat ada tempat prasmanan. Meja dengan kue-kue. Ada panggung kecil tempat penyanyi electone. Belum ketemu Bimbi. Jevino juga di mana dia. Kenapa aku jadi deg-degan ya. Apa mau melepas mantan pacar menjadi milik orang? Ah biar saja. Ken masuk ke belakang. Aku tidak mengikuti. Karena menurut sie acara Bimbi sedang di rias. Jevino belum datang. Aku duduk di deretan kursi agak dekat dengan pianis.
          *** *** ***
          Suasana sepi tidak seperti acara pernikahan sama sekali. Hampir dua puluh menit aku menunggu. Piano yang di mainkan lagu-lagu melo. Membuat aku sedikit baper. Tapi aku harus kuat. Tiba-tiba musik keras. Dan suara MC terdengar memanggil Bimbi. “Bimbi silakan keluar dan menyambut sahabatmu!” seorang gadis cantik sekali. Memakai gaun warna pink. Sama sekali bukan baju pengantin meski di rias. Tapi aku tak berani mengatakan tentunya. Bimbi memelukku aku pun memeluk Bimbi. “Selamat ya Bim.” “Selamat apa?” “Selamat menempuh hidup baru.” “Dengan siapa?” “Ya dengan Jevino.” “Jujur kamu marah padaku atau tidak. Dan kau masih mencintai Jevino atau tidak?” “Aku mencintainya karena itu aku tak bisa melarang untuk hidup bersamamu. Dan aku sangat menyayangimu juga.” “Trimakasih, Selvi. Tapi aku tak hendak menikah dengan Jevino. Pacarku itu Kenzi dia masih mau menyelesaikan skripsinya dulu.” “Lalu undangan itu?” “Jevino kamu harus bertanggung jawab!” suara Bimbi memanggil Jev. Jevino keluar dari ruang tengah memakai Jas hitam sangat tampan. Dia berkata Bimbi ini keponakanku. Undangan itu kubuat satu lembar saja untuk melihat kesungguhanmu ingin melanjutkan kuliah. Aku tak bisa hidup tanpamu Selvi. Aku akan menunggumu sampai selesai kuliah. Apa kamu masih percaya padaku?” Lagu berubah jadi “Happy Birth Day” ternyata ini ulang tahun Bimbi. Oh Jevino hampir saja separuh perjalananku terluka karena harus berpisah denganmu. Ternyata kamu setia. Kamu memahamiku.
Share:

Selasa, 01 Mei 2018

Buruh Sawah-Cerpen Event



#Event_1_karya_1_hari_dalam_30_hari
#JisaAFTa
Karya ke-25
BURUH SAWAH
Karya: Riami

Angin senja ini masih bersahabat dengan Jito buruh sawah di lereng bukit Nuris. Apa yang dilakukan hingga sore begini masih belepotan bermandi lumpur. Menurut jito yang sederhana pemikirannya ini siapa lagi yang mau menggarap sawah di bukit ini. Semua pada lari ke kota mengadu nasip menjadi pekerja pabrik. Bedanya Jito tak mengenal tanggal merah. Tak mengenal hari buruh meski dia seorang buruh. Yang dia tahu pokoknya dia disuruh lembur sampai sore sama majikannya pak Marto. Baginya kalau dia mengayunkan cangkulnya sampai sore, berarti dia bisa menyambung hidup dalam keluarganya di rumah. Kalau sampai siang hanya limapuluh ribu yang dia dapat tapi kalau sampai sore bisa delapan puluh ribu. Lumayan pikir Jito. Bisa menyenangkan istrinya di rumah. Istrinya juga tidak diam dia juga jadi tukang cuci, masak dan setrika di rumah bu Marto.

“Sore ini untung tidak hujan ya kang Jito.” “Iya Mun, kalau hujan tidak bisa lembur. Masih untung kamu punya mesin Mun bisa kerja borongan. Tidak seperti aku. Tapi aku masih untung juga yang buat bedengan dan mencangkul pematang ini belum menggunakan mesin. Kalau itu yang terjadi aku mo kerja apa Mun. Aku dulu kalau disuruh sekolah sama emak malas Mun. Cuma SD doang. La sekarang katanya wajib SMP yo Mun. Wajar sembilan tahun menurut berita sih Mun.” “Iya Kang, tapi semua juga masih tergantung orangnya kang Jito banyak juga yang SMA bahkan sarjana nganggur. Karena mereka menganggab bekerja itu harus sesuai lulusannya. Kalau tidak sesuai lebih baik nganggur. La itu kalau sudah gengsi gede-gedean itu malah susah. Padahal karier itu harus di mulai dari yang kecil. Dulu akau pulang sekolah juga bantu bapakku di sawah. Lalu aku sekolah terus sampai SMK jurusan mesin industri. Aku bekerja di sawah begini bukan berarti aku tidak diterima di perusahaan kang Jito. Tapi aku berfikir harus mengolah sawahku sendiri. Itu pikiranku. La kalau semua kerja ke kota siapa coba produksi padi. Trus sawah-sawah yang subur pada ditanami kayu atau bahkan dijual. La nanti yang beli belum tentu tetap dibuat sawah kang.” “Oalah pikiranmu kok bening. La aku iki tidak pernah memikirkan itu lho Mun.” “ Yo harus Kang Jito. Sawahmu yang sepetak itu jangan dijual. Coba kamu tanami cabe. Pinggirnya kamu tanami ubi, terong, dan sayur lain untungnya lumayan. Apa lagi kalau kemarin lombok sekilo bisa mencapai tujuh puluh ribu rupiah. Ah lumayan betul.” “Betul juga ya Mun.” Sambil membajak Muntaha terus saja menceramahi Jito. “La terus sampeyan yo kudu tetep sinau. Pumpung belum punya anak. Ayo tak ajari di rumah. Trus nanti tak daftarno dikejar paket B di kantor Kepala Desa.” “Biyuh kamu jadi apa tho Mun aku Cuma macul kamu suruh sekolah lagi alah mun otakku wis campur lumpur.” “lho seperti itu yang keliru. Meskipun buruh tani ini kan cuma nasip kamu dan aku sementara waktu. La siapa tahu tiga tahun lagi kamu dan saya jadi juragan kang Jito.” “Walah nglindur opo maneh tho kamu Mun.” “Lho jangan menghina Kang, aku sudah menabung mesin pencetak batako. Nanti rumah-rumah akan langsung pakai batako kang. Sebab batu merah semakin mahal dan buatnya tidak praktis. Masih nunggu dibakar prosesnya lama. Lha kalau batako ini cukup dibuat adonan cor dicetak sehari dua hari kering sudah bisa dipakai.” “Lagu kopi dangdut terdengar di saku Muntaha.”

“Hallo, Assalaamualaikum.” “Walaikaum salam, saya muntaha ada yang bisa dibantu.” “Iya kang aku Tolip, mau pesen batako untuk rumah dan batako untuk halaman. Nanti aku mau ke rumah sampean jam empat sore bisa ya kang.” “Oh bisa-bisa Sekarang pun bisa ke rumah. Silakan lihat. Ada Kamim adik saya di rumah sama istri saya. Nanti bisa pesen. Kalau mau dipakai sekarang langsung bisa diantar adikku. Sorry Lip aku masih bajak sawah. Bentar ya. Tapi aku nanti jam empat sudah pulang kok.” “Iya kang Mun, besuk pakainya nanti tak ke rumah saja kalau ketemu sampean langsung enak.” “Oh ya.” Hp ditutup sama Muntaha. Dimasukkan saku melanjutkan pekerjaan. Terdengar adzan duhur. Muntaha membersihkan badan berganti sarung solat di bawah pohon rindang dengan tikar kecil dan sajadah yang selalu dia bawa kemanapun pergi. Setelah bajak sampai sore Muntaha mau pulang. Tapi Jito memanggil. “Mun kamu keren ya ke sawah aja bawa HP.” “Jaman Now harus keren bang Jito yang penting buat kerja bukan buat mesum. La tadi kang Jito tahu sendiri ta aku ada pesenan Batako lewat Hp.” La trus lik Hpmu jatuh ke sawah klelep piye?” “Ah tidak bisa Lihat sebelum masuk saku ada tali. Dan ada pelindung air. Ni seperti HPnya penyelam.” “Makanya kang Jito silakan sekolah. Nanti biar kalau bacanya lancar selama ini kang Jito gak lancar kan hitung-hitungan sama baca. Nanti kalau kau dah fokus. Kang Jito boleh pakai bajak mesin saya. Nah bajak mesin ini pakai operasional seperti komputer. Makanya jika sebelum mengerjakan saya cek dulu bagaimana ketika satu meter tarikan bisa diukur sama mesinnya berapa jam kira kira per hektar dan perkiraan biaya. Keren kan mesinnya. Dan aku sudah bisa memprediksi penghasilanku sebab satu hektar rata rata hanya butuh waktu dua minggu kalau untuk tanam padi.” “Ooh enak ya Mun.” “Iya semua kerja itu ada enaknya ada tidaknya. Yang penting ditekuni biar hasilnya maksimal.”

“Kamu ekonomimu meningkat terus ya Mun. Semua harus dibarengi usaha keras kang Jito. Jangan pasrah pada nasip. Kita juga harus gali keistimewaan pasangan hidup kita. Bukan kita menyuruh kerja. Tapi contohnya. Istriku bakat untuk merias. Wah lihat to penampilannya. Melihat kemampuannya itu tidak aku marahi malah aku persilahkan aku sekolahkan dia merias manten pokoknya rias wajah. Eh dia bakat. Jadi sekarang buka salon di rumah potong rambut dan kecantikan. Tapi tetap tak kasih uang belanja. Uang ada yang ditabung pribadi ada yang ditabung bersama. Tapi tidak ada rahasia diantara kami. Orang tua selalu kujatah kang Jito baik mertua maupun orangtuaku sendiri. Meskipun tidak sebesar yang dia dapat dari kerja sendiri. Hanya sebagai bukti sedikit bakti.” “Oh iya Mun, istriku pernah minta izin sekolah kecantikan ke saya tapi tidak saya perbolehkan. Salah ya mun aku?” “Yo salah. Sampean ngekang tapi la belanjanya kurang ya kasian istri ta kang. Gak papa kalau mau belajar pada istriku boleh. Bisa silakan.” “Kami juga menulis Kang. Nulis apa ta Mun atasane usaha batako wae kok Nulis. Yo nulis bisnisku kang tak promosikan di Fb, di hp ini. Kalau istriku ya nulis tentang rias. Nanti istrimu bisa baca bukunya tentang rias. Sudah diterbitkan semua.” “Bayar to kang begitu itu?” “Tidak sekarang ada penerbit gratis namanya J-Maestro. La wis ayo mulih. Dah sore.” “Isih kang aku masih mau tanya. Aku tadi serius yang sekolah paket kang. Bayar ta itu.” “La ada yang bea siswa nanti tak coba. Kalau tes dan syaratnya masuk nanti bayare pas ujian ae. Ayo biar bukit Nuris ini bebas buta aksara. Sukses gerakan membaca dan sukses ekonominya. Jangan menunggu perintah siapa-siapa harus kita sendiri memulai. Nanti sore jam lima tak tunggu ya di kantor Desa.

***  ***  ***
 Sore hari jam lima seperempat di kantor Desa. “Assalaamualaikum.” “Waalaikum salam ee kang Muntaha. Ada apa kang.” “Ini mau daftarkan kang Jito paket B masih bisa ya. Oiya. Ada bea siswa gak.” “Kayaknya yang bea siswa maksimal usia dua puluh satu tahun.” “La berarti kamu sudah tidak ada bea siswa sebab sudah dua puluh sembilan tahun.” “ Ya udah gak papa aku tetap daftar. Aku tertarik pingin maca buku-buku pertanian kang Mun.” “Ya wis. Iku kelas e. Iku bapak ibu gurune ya guru di SMP Bukit Nuris ini juga kang. Itu perpustakaannya. Kang Jito bisa melekan di kantor desa ini dua kali seminggu. Khusus yang kerja. Bisa baca-baca jadi kelayapannya ada hasilnya dan pasti tidak dimarahi istri. Jangan lupa besuk istrimu ajak ke rumah ya. Biar belajar rias sama istriku.” “Iya kang.” “Wah kalau di Bukit Nuris ini semua punya pemikiran seperti kang Muntaha dan Kang Jito pasti cepet maju Desa ini.” Celetuk Kepala Desa.
Share:

Advertisement

BTemplates.com

Elegant Themes

Advertisement

Popular Posts