Blog kepenulisan

Senin, 09 Oktober 2017

Dua Sisi

Dua Sisi

Kau bagai keping mata uang yang unik
Halaman depannya bergambar bunga segu penuh wangi, artistik menyenangkan menentramkan jiwa siapa saja
Kadang mampu membuatku tersedu dalam duka

Melihat sisi gambar halaman depanmu menukikkan masa lalu yang sama, ternyata warna pelanginya beda
Pelangimu melengkung menghiasi langit
Pelangiku memendar pada catatan laut

Aku tak mampu menyusuri tepi langitmu sampai batas mana warna spektrumnya
Begitu juga pelangiku aku tak bisa mengukur tepinya
Kau dan aku sama sama berjalan ingin menemukan tepi

Halaman belakangmu penuh angka spikulasi
Serius seperti angkuh padahal sebenarnya kau adalah pemberi senyum yang hebat

Meski dalam kadar menyusuri bias pelangi masing masing pada sisi yang berbeda aku tetap kagum pada penampilan utuhmu yang sempurna
Dalam rasa di dalam bumi hatiku

*Ria*
Share:

Minggu, 08 Oktober 2017

Pesan

Pesan

Ketika aku membaca pesan yang yang kau pahat di pohon Kasa
Aku ingat waktu kita duduk di telaga berka

Angin menyusupkan kata-katamu mantramu dalam detak jantungku

Aku masih mengingatmu dan menunggumu kembali di sini
Dalam remang jiwa aku tak sanggup melemparkan ukiran kata katamu ke dasar danau

Setiap senja aku tuliskan juga satu kata mantra indah untukmu diujung tetes air suci di telaga ini
Ku yakin air telaga berka tak kan habis sebelum senyummu ku sambut dengan jemariku di sini
Wahai kekasih hati

Dengan penuh keyakinan semilir selalu membawamu padaku ketika fajar, dan gulita maupun purnama penuh
Ujung hati kita menyatu di sejuknya jiwa
Berlabuh pada kesederhanaan cinta
Menjadi sebuah pertemuan jiwa

*Ria*
Share:

Pesan

Pesan

Ketika aku membaca pesan yang yang kau pahat di pohon Kasa
Aku ingat waktu kita duduk di telaga berka

Angin menyusupkan kata-katamu mantramu dalam detak jantungku

Aku masih mengingatmu dan menunggumu kembali di sini
Dalam remang jiwa aku tak sanggup melemparkan ukiran kata katamu ke dasar danau

Setiap senja aku tuliskan juga satu kata mantra indah untukmu diujung tetes air suci di telaga ini
Ku yakin air telaga berka tak kan habis sebelum senyummu ku sambut dengan jemariku di sini
Wahai kekasih hati

Dengan penuh keyakinan semilir selalu membawamu padaku ketika fajar, dan gulita maupun purnama penuh
Ujung hati kita menyatu di sejuknya jiwa
Berlabuh pada kesederhanaan cinta
Menjadi sebuah pertemuan jiwa

*Ria*
Share:
Pesan

Ketika aku membaca pesan yang yang kau pahat di pohon Kasa
Aku ingat waktu kita duduk di telaga berka

Angin menyusupkan kata-katamu mantramu dalam detak jantungku

Aku masih mengingatmu dan menunggumu kembali di sini
Dalam remang jiwa aku tak sanggup melemparkan ukiran kata katamu ke dasar danau

Setiap senja aku tuliskan juga satu kata mantra indah untukmu diujung tetes air suci di telaga ini
Ku yakin air telaga berka tak kan habis sebelum senyummu ku sambut dengan jemariku di sini
Wahai kekasih hati

Dengan penuh keyakinan semilir selalu membawamu padaku ketika fajar, dan gulita maupun purnama penuh
Ujung hati kita menyatu di sejuknya jiwa
Berlabuh pada kesederhanaan cinta
Menjadi sebuah pertemuan jiwa

*Ria*


Share:
Pesan

Ketika aku membaca pesan yang yang kau pahat di pohon Kasa
Aku ingat waktu kita duduk di telaga berka

Angin menyusupkan kata-katamu mantramu dalam detak jantungku

Aku masih mengingatmu dan menunggumu kembali di sini
Dalam remang jiwa aku tak sanggup melemparkan ukiran kata katamu ke dasar danau

Setiap senja aku tuliskan juga satu kata mantra indah untukmu diujung tetes air suci di telaga ini
Ku yakin air telaga berka tak kan habis sebelum senyummu ku sambut dengan jemariku di sini
Wahai kekasih hati

Dengan penuh keyakinan semilir selalu membawamu padaku ketika fajar, dan gulita maupun purnama penuh
Ujung hati kita menyatu di sejuknya jiwa
Berlabuh pada kesederhanaan cinta
Menjadi sebuah pertemuan jiwa

*Ria*


Share:

Selasa, 03 Oktober 2017

gambar


Tangan Mungilmu

Ketika kau sakit
Tangan mungilmu terkulai
Hatiku seakan melayang mengurai sedih

Ketika kau lucu
Hatiku pun hanyut dalam candamu
Ketika kau menangis hati bagai teriris
Tangan mungilmu masih terasa
Ketika kujabat sebelum aku mengurai waktu
Memberiku sentuhan semangat

Tangan kecilmu mengelus lukaku
Hingga pada batas sakitku
Lukaku tersapu
Rinduku berpadu
Pada tangan kecil mungilmu
Menyusuri detak jantungku

*Ria*
Share:

tersembunyi

Tersembunyi

Aku bersembunyi pada cintamu yang juga tersembunyi
Di pohon pohon yang kuat
Di embun embun pagi
Pada luas lautan tanpa batas

Karena ke mana pun aku pergi
 dan bersembunyi
Engkau selalu menemukan aku
Lalu engkau menguasaiku

Dari butiran hati yang paling kecil
Yang kumiliki  sampai pada aliran darahku
Dan pernik pernik jiwaku
Engkau yang memiliki

Aku tak bisa lari
Dari cengkeraman lembutmu wahai kekasih
Pada detik malam dan siangku
Kau selalu mengikuti

*Ria*
Share:

Advertisement

BTemplates.com

Elegant Themes

Advertisement

Popular Posts