Blog kepenulisan

Sabtu, 31 Januari 2026

Pentigraf Riami ( Sepasang Kunang-Kunang

*Sepasang Kunang-kunang*
Oleh: Riami

Sepasang kunang-kunang selalu menyala di kamar Re. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu selalu memelihara sepasang kunang-kunang di kamarnya. Binatang itu adalah penghidup kenangannya agar dia bisa tetap mengenang kekasihnya yang telah lama pergi menghadap Tuhan. Saat dia melihat kunang-kunang, selalu ia berhayal bahwa Vano calon suaminya hadir di kamarnya. Maka jika sudah begitu, Re tidak menangis lagi. Senyumnya mulai terangkat pipi dan bibir, manis sekali.

Kunang-kunang itu ditaruhnya di dalam sebuah kotak kaca. Kadang-kadang ia membukanya sebentar lalu membelainya. Dimatikan lampu kamar untuk menikmati cahayanya. 

Malam ini dia benar benar teringat saat pertama bertemu dengan Vano di sebuah taman. Lalu menyaksikan sepasang kunang-kunang terbang bersama. Memberikan keromantisan yang lebih indah. Dibukanya perlahan kunang kunang terbang menuju tangannya. Lalu menuju jendela kamar. Dilihatnya di jendela itu sebuah taman di masa lalu. Dibukanya grendel jendela. Kunang-kunang terbang keluar. Bersama itu suara jeritan perempuan dari lantai dua. Tubuh Re melayang, terjatuh menyusul kekasihnya Vano. Ibunya terisak di lantai dasar. "Mengapa ini kau lakukan, Nak? " Ibu sangat menyayangimu.
Share:

Pentigraf Riami

Bayi
Oleh: Riami

Kampung Sramen ramai sekali. Kampung di pinggir sungai yang asri itu jadi viral. Semua gara-gara penemuan bayi. Sudi yang biasa ke sungai menambang pasir dikagetkan oleh tangis bayi. Segera diangkatnya bayi itu.  Dibungkus dengan sarungnya yang apek, yang tiap hari dijadikan handuk oleh Sudi saat istirahat setelah menambang pasir. Dengan penuh hati-hati dibawanya bayi itu. Bagaikan ayam kehilangan induknya, bayi mungil yang malang. 

Dibawanya bayi itu menuju rumah pak Lurah. Sebentar saja rumah pak lurah penuh dengan warga. Ada yang simpati membawa pakaian bayi, handuk, sabun dan ada yang hanya sekedar melihat karena penasaran.

Tangis bayi memecah hiruk pikuk suara orang yang berkumpul di rumah pak Lurah. Badannya banyak yang merah-merah digigit semut. Tapi tampak lucu, kulitnya bersih. Semua pada senang dan mengutuk ibu yang membuangnya. Mereka ada yang mengatakan ibunya harus dihukum berat kalau ketemu. Tetapi siapa ibu bayi itu. Pak lurah pun bertanya tanya. HP di sakunya tampak bergetar dan menyala. Pak lurah membuka HP dan membaca pesan. "Itu anak kita bang, tolong dirawat dengan baik, atau kau kulaporkan polisi!" 


Bukit Nuris, 20 Januari 2022
Share:

Advertisement

BTemplates.com

Elegant Themes

Advertisement

Popular Posts